Open top menu
Tampilkan postingan dengan label kontemporer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontemporer. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Mei 2015
Merebaknya Riba di Indonesia : Riba Tetap Haram


Bismillahirrohmanirrohim,
Kali ini Solusi Islam Masa Kini akan membahas tentang riba.
Sebelumnya mari kita simak ayat Allah Swt,
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
 “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” ( QS.Al-Baqarah: 275)

Dari ayat diatas sudah jelas riba adalah hukumnya haram.
Apa itu riba?
Riba menurut bahasa adalah tambahan, jika menurut istilah Riba berarti menetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam (wikipedia).

Sedangkan riba dibagi menjadi 4 macam, yaitu :
Riba Qardh ialah suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).
Riba Jahiliyyah ialah hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.
Riba nasi’ah ialah tambahan yang disyaratkan yang diambil oleh si pemberi hutang (ad-da-in) dari si penghutang (al-madiin) sebagai imbalan atas tempo (yang diberikan).
Riba fadhl ialah jual beli uang dengan uang atau makanan dengan makanan dengan ada tambahannya.

Intinya riba yaitu menambahkan suatu harga dan tidak bergantung pada suka sama suka atau tidak, jadi jelas riba tetaplah haram.
Solusinya? Kembali ke ayat Allah Surat Al-Baqoroh ayat 275 disana Allah Swt menegaskan Allah telah menghalalkan jual beli.

Merebaknya riba di Indonesia
Di Indonesia atau bahkan di dunia, praktik riba sudah sangat lumrah, ini efek dari sudah jauhnya manusia dari Al-Qur'an. Untuk memenuhi nafsu segelintir orang, UUD tentang perbankan dibuat yang mana bunga juga termasuk kedalam praktik perbankan. Bukankah bunga atau riba sudah Allah haramkan melalui ayat diatas? tetapi kenapa sampai sekarang riba tidak diharamkan oleh para wakil rakyat yang duduk di Senayan?
Bukankah mereka mayoritas muslim? akankah mereka akan memikirkan solusi untuk mengatasi permasalahan riba? Bismillah, kita husnudzon saja.
Akhir kata dengan menulis artikel ini bukan berarti saya terbebas dari praktik riba, sebab kampus tempat saya menimba ilmu saja bekerja sama dengan salahsatu Bank Negara untuk proses pembayaran UKT sehingga bisa dibilang kami mahasiswa adalah korban dari sistem. Adapun solusinya bisa dengan mengkosongkan tabungan kita dan membayar UKT langsung pada tanggal yang disediakan (tidak disimpan dulu di bank).

Sekian, mohon maaf apabila ada kesalahan.
Read more
Kamis, 30 April 2015
Jangan Tertukar Mengucapkan Subhanallah dan Masya'Allah

Bismillahirrohmanirrohim,
Diantara kita pasti sudah tak asing dan bahkan sering mengucapkan Subhanallah dan Masya'Allah, tapi, apakah kita membacanya disaat yang tepat atau tidak? Sebab bila tidak akan tidak sesuai maknanya dengan kondisi yang terjadi. Seperti membaca doa hendak tidur saat hendak makan.
Di luar itu, kita mesti mengerti arti dari kalimat thoyyibah yang kita baca, tidak hanya mengerti bacaannya saja.

Kalimat thoyyibah berarti kalimat-kalimat yang baik, yang mengagungkan Allah Swt.

Untuk kalimat Subhanallah (Maha Suci Allah) diucapkan ketika melihat atau mendengar suatu yang tidak sesuai dengan perintah Allah Swt, seperti kemaksiatan. Sedangkan kalimat Masya'Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah) diucapkan ketika melihat suatu yang membuat kita takjub.

Kalimat Masya'Allah dalam Al-Qur'an ada di dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 39 seperti yang sudah saya bahas pada artikel berjudul YANG BENAR MASYA 'ALLAH ATAU MASHA 'ALLAH?
Sedangkan kalimat subhanallah terdapat di dalam surat yusuf (12) ayat 108.

Ambil contoh ketika melihat seorang yang sedang berpacaran, maka kita katakan Subhanallah (Maha Suci Allah) lalu menegurnya, bukan mengucapkan Masya'Allah(Itu terjadi atas kehendak Allah).
Contoh lain ketika kita melihat suatu pemandangan yang indah kita ucapkan Masya'Allah(Itu terjadi atas kehendak Allah), bukan mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah).

Nah, begitulah kira-kira jangan sampai tertukar saat mengucapkan subhanallah dan masya'Allah, sebab jika tertukar sama seperti kita akan makan tapi malah membaca doa akan tidur.

Sekian, semoga bermanfaat. Terima kasih.
Read more
Rabu, 29 April 2015
Yang benar masyaAllah atau mashaAllah?


Kalimat dzikir مَا شَاء اللَّهُ memang dianjurkan bagi setiap muslim jika melihat sesuatu hal yang luar biasa sesuai firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 39 :


Namun seiring berjalannya waktu ada sedikit pertentangan dalam menuliskan latin dari kalimat مَا شَاء اللَّهُ ada yang menulis masyaAllah dan adapula mashaAllah. 
Lalu mana yang benar diantara keduanya?
jawabannya keduanya benar, namun, karena kita tinggal di Indonesia, maka penulisan latin yang benar adalah MasyaAllah atau MaasyaAllaah sebab sesuai dengan Pedoman alih bahasa arab ke latin. Tetapi karena ini hanya penulisan saja, ada baiknya kita tidak mempermasalahkan hal ini selama dalam membaca kalimat hijaiyahnya benar yaitu dengan pedoman seperti pada video di bawah ini :



Jadi, pada intinya masyaAllah adalah cara mengucapkannya, sebab huruf sya atau syin dibaca dengan bibir agak monyong dan menghasilkan huruf ya tersamar. Namun untuk penulisannya sendiri silahkan mau sesuai dengan alih bahasa arab ke latin inggris atau sesuai dengan alih bahasa arab ke Indonesia, yang penting kita benar dalam membacanya, sebab dalam bahasa arab sangatlah teliti, berbeda makhroj maka berbeda arti.

Sekian dan terima kasih, mohon maaf apabila ada kesalahan.
Read more